Sudah masuk usia 30 tapi isi tabungan masih bikin geleng-geleng kepala? Pertanyaan soal “berapa seharusnya tabungan di usia 30” memang jadi salah satu topik keuangan paling sering dicari, terutama oleh generasi milenial yang mulai sadar pentingnya perencanaan finansial jangka panjang.
Nah, menurut Fidelity Investments, seseorang idealnya sudah memiliki tabungan setara satu kali penghasilan tahunan saat memasuki usia 30. Jadi kalau penghasilan bulanan Rp10 juta, artinya target tabungan idealnya sekitar Rp120 juta.
Angka ini tentu bukan patokan mutlak karena kondisi finansial setiap orang berbeda, tergantung gaya hidup, lokasi tempat tinggal, hingga jumlah tanggungan. Namun dengan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mencatat 98,8% rekening bank di Indonesia bersaldo di bawah Rp100 juta, jelas bahwa masih banyak ruang untuk perbaikan dalam budaya menabung masyarakat.
Simak penjelasan lengkap dari desapadalarang.com berikut ini untuk memahami angka tabungan ideal, simulasi realistisnya, dan strategi konkret mencapainya sebelum usia 35 tahun.
Kenapa Usia 30 Jadi Patokan Penting dalam Keuangan?

Usia 30 sering disebut sebagai milestone finansial yang krusial. Di fase ini, banyak orang sudah memasuki karier yang lebih stabil dengan penghasilan yang cenderung meningkat dibanding usia 20-an.
Tapi di sisi lain, tanggung jawab juga bertambah. Mulai dari biaya pernikahan, cicilan rumah, kebutuhan anak, hingga persiapan dana pensiun, semuanya mulai menuntut perhatian serius.
Dilansir dari CNBC Indonesia, usia 30 merupakan “golden age” untuk membangun fondasi finansial karena kombinasi antara penghasilan yang meningkat dan waktu investasi yang masih panjang. Kalau momentum ini terlewat, mengejar ketertinggalan di usia 40-an akan jauh lebih berat.
Jadi, menetapkan target tabungan di usia 30 bukan soal tekanan sosial. Ini soal membangun pondasi agar kehidupan finansial ke depan tidak terus-menerus dalam mode “bertahan hidup.”
Berapa Jumlah Tabungan Ideal di Usia 30 Menurut Perencana Keuangan?
Pertanyaan inti yang paling sering muncul tentu soal angka. Berapa sih nominalnya?
Jawaban dari para perencana keuangan cukup konsisten, meskipun angka pastinya bisa berbeda tergantung pendekatan yang digunakan.
Formula Tabungan Ideal Berdasarkan Gaji Tahunan
Rumus paling populer yang direkomendasikan Fidelity Investments adalah menyimpan tabungan senilai 1x penghasilan tahunan di usia 30. Formula ini kemudian bertingkat sesuai bertambahnya usia.
Berikut gambaran target tabungan berdasarkan rentang usia, berdasarkan berbagai sumber perencana keuangan dan dapat berubah sesuai kondisi ekonomi terbaru:
| Usia | Target Tabungan | Contoh (Gaji Rp10 Juta/Bulan) |
|---|---|---|
| 25 tahun | 0,5x gaji tahunan | Rp60 juta |
| 30 tahun | 1x gaji tahunan | Rp120 juta |
| 35 tahun | 2x gaji tahunan | Rp240 juta |
| 40 tahun | 3x gaji tahunan | Rp360 juta |
| 50 tahun | 5-6x gaji tahunan | Rp600-720 juta |
| 60 tahun (pensiun) | 8-10x gaji tahunan | Rp960 juta – Rp1,2 miliar |
Tabel di atas menunjukkan bahwa target tabungan bersifat bertahap, bukan angka yang harus dicapai sekaligus.
Simulasi Tabungan untuk Gaji Rp5 Juta hingga Rp20 Juta
Karena penghasilan setiap orang berbeda, berikut simulasi tabungan ideal di usia 30 berdasarkan berbagai level gaji bulanan:
| Gaji Bulanan | Gaji Tahunan | Target Tabungan Usia 30 (1x) | Tabungan/Bulan yang Perlu Disisihkan (10 tahun) |
|---|---|---|---|
| Rp5 juta | Rp60 juta | Rp60 juta | Rp500 ribu |
| Rp7 juta | Rp84 juta | Rp84 juta | Rp700 ribu |
| Rp10 juta | Rp120 juta | Rp120 juta | Rp1 juta |
| Rp15 juta | Rp180 juta | Rp180 juta | Rp1,5 juta |
| Rp20 juta | Rp240 juta | Rp240 juta | Rp2 juta |
Simulasi di atas mengasumsikan menabung konsisten sejak usia 20 tahun selama 10 tahun, belum termasuk bunga atau imbal hasil investasi. Perencana keuangan Tejasari dari Tatadana Consulting menyebutkan, seseorang bergaji Rp6 juta per bulan yang konsisten menabung 30% bisa mengumpulkan sekitar Rp240 juta dalam 10 tahun.
Angka-angka ini tentu bersifat panduan umum dan dapat disesuaikan dengan kondisi pribadi masing-masing.
Realita Tabungan Masyarakat Indonesia di Usia 30-an
Setelah melihat angka idealnya, sekarang pertanyaannya, bagaimana realitanya?
Faktanya cukup mengejutkan. Berdasarkan data distribusi simpanan dari LPS, sekitar 98,8% rekening bank di Indonesia memiliki saldo di bawah Rp100 juta. Artinya, mayoritas masyarakat Indonesia masih jauh dari target tabungan ideal yang direkomendasikan para ahli keuangan.
Sementara itu, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024 yang diselenggarakan OJK bersama BPS menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia baru mencapai 65,43%. Angka ini memang naik dibanding tahun 2022, namun masih menunjukkan bahwa sekitar sepertiga penduduk belum memiliki pemahaman keuangan yang memadai.
Jadi, kalau merasa tabungan masih jauh dari angka ideal, sebenarnya bukan sendirian. Yang penting adalah kesadaran untuk mulai memperbaiki kondisi keuangan dari sekarang.
Penyebab Tabungan Belum Mencapai Angka Ideal
Ada beberapa faktor utama yang membuat tabungan di usia 30 seringkali belum sesuai harapan.
Pertama, fenomena lifestyle inflation atau kenaikan gaya hidup yang mengikuti kenaikan penghasilan. Setiap kali gaji naik, pengeluaran untuk kebutuhan “gaya hidup” ikut meningkat sehingga porsi tabungan tetap kecil.
Kedua, tidak adanya perencanaan keuangan sejak awal karier. Banyak orang baru sadar pentingnya menabung setelah menghadapi pengeluaran mendadak di usia 30-an.
Ketiga, beban utang konsumtif seperti cicilan kartu kredit, pinjaman online, atau kredit kendaraan bermotor yang menggerus penghasilan bulanan. Perencana keuangan Andy Nugroho menyebutkan bahwa banyak kliennya di usia 30 justru masih bergulat dengan utang-piutang, termasuk pinjaman online.
Keempat, tidak memisahkan rekening tabungan dengan rekening pengeluaran harian. Kebiasaan ini membuat uang tabungan sangat mudah “terpakai” tanpa disadari.
Cara Realistis Mencapai Tabungan Ideal Sebelum 35 Tahun

Kabar baiknya, meskipun merasa terlambat, masih ada waktu untuk mengejar target tabungan. Berikut beberapa strategi yang bisa langsung diterapkan.
1. Terapkan Metode 50/30/20 Secara Konsisten
Metode budgeting ini membagi penghasilan menjadi tiga pos utama:
- 50% untuk kebutuhan pokok (sewa, makan, transportasi, tagihan)
- 30% untuk keinginan (hiburan, makan di luar, langganan streaming)
- 20% untuk tabungan dan investasi (dana darurat, deposito, reksa dana)
Nah, kunci utamanya adalah menyisihkan 20% di awal sebelum digunakan untuk keperluan lain. Konsep ini sering disebut “pay yourself first,” yang mengubah pola pikir dari “menabung sisa pengeluaran” menjadi “mengatur pengeluaran dari sisa setelah menabung.”
Kalau penghasilan Rp10 juta per bulan, berarti minimal Rp2 juta langsung masuk ke rekening tabungan setiap tanggal gajian.
2. Manfaatkan Tabungan Berjangka dan Deposito
Tabungan biasa di bank umumnya memberikan bunga sangat kecil, sekitar 0,5-1% per tahun. Untuk hasil yang lebih optimal, pertimbangkan instrumen simpanan lain.
Tabungan berjangka cocok untuk membangun disiplin karena uang tidak bisa ditarik sebelum jatuh tempo. Deposito menawarkan bunga yang lebih tinggi, biasanya berkisar 3-5% per tahun tergantung tenor dan jumlah simpanan.
Untuk yang ingin imbal hasil lebih tinggi dengan risiko terukur, reksa dana pasar uang bisa menjadi alternatif. Produk ini cukup likuid dan cocok untuk tujuan keuangan jangka pendek hingga menengah.
3. Bangun Dana Darurat Minimal 6 Bulan Pengeluaran
Sebelum mengejar target tabungan besar, pastikan dana darurat sudah aman terlebih dahulu. Dana darurat idealnya mencakup 3 hingga 6 bulan total pengeluaran bulanan.
Misalnya pengeluaran bulanan Rp7 juta, maka dana darurat yang perlu disiapkan berkisar Rp21 juta sampai Rp42 juta. Simpan dana ini di instrumen yang mudah dicairkan, seperti tabungan khusus atau reksa dana pasar uang.
Tanpa dana darurat, risiko terjebak dalam utang konsumtif saat ada kebutuhan mendadak akan sangat tinggi. Dana darurat adalah fondasi sebelum membangun tabungan dan investasi jangka panjang.
Perbandingan Produk Tabungan dan Investasi untuk Usia 30-an
Memilih produk keuangan yang tepat sama pentingnya dengan disiplin menabung. Berikut perbandingan beberapa instrumen yang relevan untuk usia 30-an:
| Produk | Potensi Imbal Hasil/Tahun | Risiko | Likuiditas | Cocok Untuk |
|---|---|---|---|---|
| Tabungan Biasa | 0,5-1% | Sangat Rendah | Sangat Tinggi | Kebutuhan harian |
| Tabungan Berjangka | 2-4% | Rendah | Rendah (terkunci) | Target tabungan jangka menengah |
| Deposito | 3-5% | Rendah | Sedang (ada tenor) | Simpanan aman dengan bunga lebih tinggi |
| Reksa Dana Pasar Uang | 4-6% | Rendah | Tinggi | Dana darurat, tabungan fleksibel |
| Emas/Logam Mulia | Fluktuatif (rata-rata 5-10%) | Sedang | Sedang | Lindung nilai jangka panjang |
| Reksa Dana Saham | 8-15% | Tinggi | Tinggi | Tujuan jangka panjang (5+ tahun) |
Angka imbal hasil di atas bersifat estimasi umum berdasarkan data historis dan dapat berubah sesuai kondisi pasar terbaru. Pastikan memilih produk yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Singkatnya, untuk usia 30-an, kombinasi yang ideal adalah dana darurat di reksa dana pasar uang atau tabungan khusus, tabungan rutin via tabungan berjangka, dan investasi jangka panjang di reksa dana saham atau emas.
Penutup
Tabungan ideal di usia 30 memang bukan angka yang bisa disamaratakan untuk semua orang. Formula 1x gaji tahunan dari Fidelity Investments bisa jadi acuan, tapi yang paling penting adalah konsistensi dan kedisiplinan dalam menabung sesuai kemampuan masing-masing.
Kalau merasa masih jauh dari target, jangan panik. Yang terpenting adalah mulai dari sekarang, sekecil apapun nominalnya. Seperti yang disampaikan pengamat keuangan Tony Steuer, masih ada waktu untuk mengejar asalkan tidak tergoda mengambil jalan pintas dengan investasi berisiko tinggi.
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan data dari OJK, LPS, serta panduan perencana keuangan bersertifikasi, dan bersifat edukatif sebagai panduan umum. Untuk perencanaan keuangan yang lebih spesifik, konsultasi dengan perencana keuangan profesional sangat disarankan. Terima kasih sudah membaca, semoga langkah finansial ke depan semakin terarah dan penuh keberkahan.
Chrysan Kirana adalah alumni Big Four (EY & PwC Indonesia) dengan IPK sempurna 4.00/4.00 di jenjang S1 dan S2 Universitas Multimedia Nusantara. Pengalamannya mencakup Senior Auditor EY (hampir 5 tahun), Accounting Manager Kopi Kenangan, hingga Finance Manager di SIRKA — startup yang didukung Y Combinator (YC S21). Di Desa Keuangan, Chrysan menulis konten tentang akuntansi, laporan keuangan, dan perpajakan untuk UMKM.


